Saya sering membeli makanan pada penjual makanan di dekat rumah. Hingga akhirnya dia mulai mengenali dan hafal menu apa yang akan saya pilih. Kadang kala, jika makanan yang dijualnya sudah hampir habis, penjual itu menawarkan tambahan lauk dengan harga lebih murah.
Suatu sore saya membeli makanan untuk makan malam. Saya membayar dengan uang logam dan lumayan kesulitan menghitung uang logam tersebut. Setelah saya merasa menghitungnya dengan benar, saya menyerahkan uang tersebut kepada penjual makanan.
Saya memintanya menghitung kembali, untuk mengetahui apakah jumlah yang saya serahkan sudah benar. Dia menolak menghitungnya dan bilang, “I believe (in) you. No need to count.” Saya pun hanya tersenyum dan meninggalkan tempat itu dengan membawa makanan yang telah dibungkus untuk dibawa pulang.
Kepercayaan tidak seharusnya diartikan seperti itu. Penjual makanan tersebut percaya bahwa saya tidak berniat menipunya dengan membayar kurang dari jumlah yang seharusnya. Namun, bukan berarti dia tidak perlu menghitungnya kembali. Dengan menghitung kembali uang tersebut, dia telah melakukan pengecekan dan koreksi jika memang terjadi kesalahan. Sehingga, kesalahan itu dapat dimimalisasi.
Begitu halnya dalam aktivitas kita yang lain, dalam pekerjaan, pelayanan di gereja, persahabatan, dan dalam keluarga. Kepercayaan bukan berarti mengabaikan kemungkinan terjadinya kesalahan. Kepercayaan harus tetap dijaga dengan saling mengingatkan jika ada kesalahan, dan membantu membenahi sebagai tindakan konkritnya.
This entry was posted in General. Bookmark the permalink. Both comments and trackbacks are currently closed.
Kepercayaan
Saya sering membeli makanan pada penjual makanan di dekat rumah. Hingga akhirnya dia mulai mengenali dan hafal menu apa yang akan saya pilih. Kadang kala, jika makanan yang dijualnya sudah hampir habis, penjual itu menawarkan tambahan lauk dengan harga lebih murah.
Suatu sore saya membeli makanan untuk makan malam. Saya membayar dengan uang logam dan lumayan kesulitan menghitung uang logam tersebut. Setelah saya merasa menghitungnya dengan benar, saya menyerahkan uang tersebut kepada penjual makanan.
Saya memintanya menghitung kembali, untuk mengetahui apakah jumlah yang saya serahkan sudah benar. Dia menolak menghitungnya dan bilang, “I believe (in) you. No need to count.” Saya pun hanya tersenyum dan meninggalkan tempat itu dengan membawa makanan yang telah dibungkus untuk dibawa pulang.
Kepercayaan tidak seharusnya diartikan seperti itu. Penjual makanan tersebut percaya bahwa saya tidak berniat menipunya dengan membayar kurang dari jumlah yang seharusnya. Namun, bukan berarti dia tidak perlu menghitungnya kembali. Dengan menghitung kembali uang tersebut, dia telah melakukan pengecekan dan koreksi jika memang terjadi kesalahan. Sehingga, kesalahan itu dapat dimimalisasi.
Begitu halnya dalam aktivitas kita yang lain, dalam pekerjaan, pelayanan di gereja, persahabatan, dan dalam keluarga. Kepercayaan bukan berarti mengabaikan kemungkinan terjadinya kesalahan. Kepercayaan harus tetap dijaga dengan saling mengingatkan jika ada kesalahan, dan membantu membenahi sebagai tindakan konkritnya.